IHSG Ditutup Hijau di Hari Pertama Perdagangan 2026, Sentuh Level 8.748,13
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan kinerja positif. Pada penutupan perdagangan hari pertama bursa di tahun ini, IHSG ditutup menguat dan berhasil menyentuh level 8.748,13, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek pasar modal domestik di tengah dinamika ekonomi global.
![]() |
| Sumber Gambar: Tim Ternak Aset Indonesia |
Penguatan IHSG terjadi seiring meningkatnya minat beli investor sejak awal sesi perdagangan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) tercatat menjadi penopang utama pergerakan indeks, terutama dari sektor perbankan, energi, dan komoditas. Sentimen positif ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memiliki kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia meskipun ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.
Dari sisi global, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sepanjang 2026. Harapan penurunan suku bunga acuan mendorong aliran dana ke aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia. Di saat yang sama, ketegangan geopolitik dan isu perang tarif justru membuat investor lebih selektif, namun tidak sepenuhnya menghindari pasar ekuitas.
Analis pasar menilai penguatan IHSG di awal tahun ini lebih bersifat sinyal psikologis yang penting. Awal tahun yang hijau sering kali menjadi indikator kepercayaan pasar, meskipun belum tentu mencerminkan tren jangka panjang. Investor institusi cenderung masih melakukan penyesuaian portofolio, sementara investor ritel mulai kembali aktif setelah libur akhir tahun.
Dari dalam negeri, stabilitas makroekonomi, inflasi yang relatif terjaga, serta arah kebijakan fiskal yang masih pro-pertumbuhan menjadi faktor pendukung pergerakan positif IHSG. Selain itu, kinerja emiten sepanjang 2025 yang relatif solid turut memberikan ruang optimisme terhadap prospek laba di tahun 2026.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diimbau untuk mencermati sejumlah risiko, mulai dari fluktuasi harga komoditas, dinamika nilai tukar, hingga perkembangan kebijakan global yang dapat memengaruhi arus modal asing. Volatilitas masih berpotensi terjadi, terutama pada kuartal awal tahun.
Dengan ditutupnya IHSG di zona hijau pada hari pertama perdagangan 2026, pasar modal Indonesia memulai tahun baru dengan nada optimistis. Namun, keberlanjutan tren penguatan ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi data ekonomi, stabilitas global, serta kemampuan emiten dalam menjaga kinerja fundamentalnya.

Komentar
Posting Komentar